Selasa, 03 November 2026

Rabu, 04 November 2026 Matematika

 KELAS 1C SD AL AZHAR 2

BANDAR  LAMPUNG



📌 IDENTITAS
Nama Guru: Hesti Windari, S.Pd. dan Silva Ayuningsih, S.Pd.
Hari/Tanggal: Rabu, 04 November r 2026
Fase/Kelas: A / 1C Ustman Bin Affan
Mata Pelajaran: Matematika
Materi : Soal Cerita Pengurangan
Pertemuan Ke: 5  (2 JP)

💗 CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu memahami konsep pengurangan bilangan cacah sampai 20 melalui benda konkret, gambar, dan simbol matematika. Peserta didik dapat memahami informasi dalam soal cerita sederhana, menentukan jumlah benda yang berkurang, serta menyelesaikan soal cerita pengurangan yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

💗 TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik dapat:

  1. Memahami pengertian pengurangan melalui soal cerita sederhana.

  2. Mengidentifikasi informasi yang diketahui dan ditanyakan dalam soal cerita.

  3. Menentukan jumlah benda yang berkurang atau diambil.

  4. Menuliskan kalimat matematika menggunakan simbol pengurangan (−).

  5. Menyelesaikan soal cerita pengurangan sampai 20 dengan benar.

  6. Menjelaskan hasil penyelesaian soal cerita menggunakan bahasa sederhana.

🌷 1. Mindful (Berkesadaran)

Sholeh dan sholehah, sebelum belajar, mari kita duduk dengan tertib dan memusatkan perhatian.

Hari ini kita akan belajar tentang soal cerita pengurangan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan kejadian ketika jumlah benda berkurang karena diambil, diberikan, dimakan, atau digunakan.

Coba perhatikan dan pikirkan beberapa pertanyaan berikut!

✏️ Apakah kalian pernah memberikan makanan kepada teman?

✏️ Jika kalian memiliki 5 permen, kemudian 2 permen diberikan kepada teman, apakah jumlah permen kalian bertambah atau berkurang?

✏️ Bagaimana cara mengetahui jumlah benda yang masih tersisa?

✏️ Simbol apakah yang digunakan untuk menghitung pengurangan?

✏️ Apakah kalian pernah membantu menghitung sisa makanan atau mainan di rumah?

Ayo, perhatikan cerita berikut!

Cerita 1: Permen Milik Siti 🍬

Siti Anak yang Senang Berbagi

Siti memiliki 10 buah permen.

Saat bermain, Siti melihat temannya tidak membawa makanan.

Siti kemudian memberikan 3 buah permen kepada temannya.

Sekarang, jumlah permen Siti menjadi lebih sedikit.

Siti ingin mengetahui berapa permen yang masih dimilikinya.

Ayo, kita bantu Siti menghitung!

Ayo, kita pahami ceritanya!

  1. Siapa yang memiliki permen? Siti.

  2. Berapa jumlah permen Siti mula-mula? 10 permen.

  3. Berapa permen yang diberikan kepada teman? 3 permen.

  4. Apakah jumlah permen Siti bertambah atau berkurang? Berkurang.

  5. Berapa permen Siti yang tersisa? 7 permen.

Mari kita hitung bersama!

  • Permen mula-mula = 10

  • Permen yang diberikan = 3

  • Permen yang tersisa = 7

Kalimat matematika:

[ 10-3=7 ]

Jadi, permen Siti yang tersisa adalah 7 buah.

🌷 Melalui cerita ini, peserta didik belajar bahwa pengurangan digunakan untuk mengetahui jumlah benda yang tersisa setelah sebagian benda diambil atau diberikan.

🌷 2. Meaningful (Bermakna)

Sholeh dan sholehah, pengurangan tidak hanya kita pelajari di sekolah, tetapi juga sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, ketika kita makan buah, memberikan mainan kepada teman, menggunakan pensil, atau mengambil beberapa benda.

Dengan belajar pengurangan, kita dapat menghitung jumlah benda yang masih tersisa.

Cerita 2: Buah Apel Ibu 🍎

Ibu Membeli Buah Apel

Ibu membeli 15 buah apel di pasar.

Sesampainya di rumah, ibu memberikan 5 buah apel kepada tetangga.

Ibu ingin mengetahui berapa apel yang masih tersisa.

Ayo, kita bantu ibu menghitung!

Dari cerita tersebut, kita mengetahui:

  • Apel mula-mula = 15 buah.

  • Apel yang diberikan = 5 buah.

  • Apel yang tersisa = ...?

Kalimat matematika:

[ 15-5=10 ]

Jadi, apel ibu yang tersisa adalah 10 buah.

Dari cerita ini, kita belajar bahwa ketika sebagian benda diberikan kepada orang lain, jumlah benda yang kita miliki menjadi berkurang.

Cerita 3: Balon Milik Budi 🎈

Balon Budi Terbang

Budi memiliki 12 balon berwarna-warni.

Saat bermain di halaman, 4 balon terlepas dan terbang ke udara.

Budi ingin menghitung berapa balon yang masih dimilikinya.

Ayo, kita bantu Budi!

Dari cerita tersebut, kita mengetahui:

  • Balon mula-mula = 12 buah.

  • Balon yang terbang = 4 buah.

  • Balon yang tersisa = ...?

Kalimat matematika:

[ 12-4=8 ]

Jadi, balon Budi yang tersisa adalah 8 buah.

Dari cerita tersebut, kita belajar bahwa pengurangan dapat digunakan untuk menghitung benda yang berkurang atau hilang.

💗 3. Mengenal Soal Cerita Pengurangan

Sholeh dan sholehah, sekarang kita akan mengenal lebih jauh tentang soal cerita pengurangan.

Soal cerita pengurangan adalah soal matematika yang disajikan dalam bentuk cerita tentang jumlah benda yang berkurang, diambil, diberikan, dimakan, atau digunakan.

Pengurangan digunakan untuk mengetahui jumlah benda yang masih tersisa.

A. Mengenal Simbol Pengurangan (−)

Simbol pengurangan adalah tanda minus (−).

Simbol ini digunakan untuk menunjukkan bahwa suatu jumlah dikurangi dengan jumlah lainnya.

Contoh:

[ 8-3=5 ]

Artinya:

  • Angka 8 adalah jumlah benda mula-mula.

  • Angka 3 adalah jumlah benda yang diambil.

  • Angka 5 adalah jumlah benda yang tersisa.

B. Kata-Kata yang Menunjukkan Pengurangan

Dalam soal cerita, terdapat beberapa kata yang dapat membantu kita mengenali pengurangan.

🌷 Diambil.

🌷 Diberikan.

🌷 Dimakan.

🌷 Hilang.

🌷 Terbang.

🌷 Digunakan.

🌷 Berkurang.

🌷 Tersisa.

Contoh:

  • Ani memiliki 10 pensil. Sebanyak 2 pensil diberikan kepada adiknya.

  • Ibu memiliki 15 telur. Sebanyak 5 telur digunakan untuk memasak.

  • Di pohon ada 12 burung. Sebanyak 4 burung terbang.

Semua cerita tersebut dapat diselesaikan menggunakan operasi pengurangan.

C. Langkah-Langkah Menyelesaikan Soal Cerita Pengurangan

Sholeh dan sholehah, agar mudah mengerjakan soal cerita, perhatikan langkah-langkah berikut!

1. Bacalah cerita dengan teliti.

Pahami cerita yang disampaikan.

2. Tentukan jumlah benda mula-mula.

Cari tahu berapa jumlah benda sebelum berkurang.

3. Tentukan jumlah benda yang diambil.

Cari tahu berapa benda yang diberikan, dimakan, hilang, atau digunakan.

4. Tuliskan kalimat matematika.

Gunakan simbol pengurangan (−).

5. Hitung jumlah benda yang tersisa.

Tuliskan jawaban dengan benar.

D. Contoh Menyelesaikan Soal Cerita

Contoh 1

Rina memiliki 9 bunga. Sebanyak 3 bunga diberikan kepada ibu. Berapa bunga Rina yang tersisa?

Penyelesaian:

[ 9-3=6 ]

Jadi, bunga Rina yang tersisa adalah 6 bunga.

Contoh 2

Ayah memiliki 18 telur. Sebanyak 6 telur digunakan untuk memasak. Berapa telur yang masih tersisa?

Penyelesaian:

[ 18-6=12 ]

Jadi, telur ayah yang tersisa adalah 12 butir.

Contoh 3

Di dalam keranjang terdapat 20 mangga. Sebanyak 8 mangga diberikan kepada tetangga. Berapa mangga yang masih ada di keranjang?

Penyelesaian:

[ 20-8=12 ]

Jadi, mangga yang tersisa adalah 12 buah.

💗 4. Mengenal Pengurangan Menggunakan Benda Konkret

Sholeh dan sholehah, selain menggunakan angka, kita juga dapat belajar pengurangan dengan bantuan benda-benda di sekitar kita.

Contohnya menggunakan pensil, penghapus, stik es krim, atau kelereng.

A. Menghitung Menggunakan Benda

Contoh:

Dina memiliki 8 buah pensil.

Kemudian, 3 pensil diberikan kepada temannya.

Ayo, kita hitung bersama!

Langkah menghitung:

  1. Siapkan 8 buah pensil.

  2. Pisahkan 3 buah pensil.

  3. Hitung pensil yang masih tersisa.

Kalimat matematika:

[ 8-3=5 ]

Jadi, pensil Dina yang tersisa adalah 5 buah.

B. Menghitung Menggunakan Gambar

Contoh:

Ada 7 buah apel. Sebanyak 2 apel dimakan.

Kalimat matematika:

[ 7-2=5 ]

Jadi, apel yang tersisa adalah 5 buah.

C. Menghitung Mundur

Pengurangan juga dapat dilakukan dengan cara menghitung mundur.

Contoh:

[ 10-3=7 ]

Caranya:

Mulai dari angka 10, kemudian mundur sebanyak 3 langkah.

10 → 9 → 8 → 7

Jadi, hasil dari 10 − 3 adalah 7.

💗 5. Keterkaitan dengan Kebesaran Allah SWT

Sholeh dan sholehah, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki.

Allah SWT memberikan berbagai nikmat kepada kita, seperti makanan, minuman, pakaian, keluarga, dan teman-teman.

Pernahkah kalian berbagi makanan kepada teman?

Ketika kita memberikan sebagian makanan kepada teman, jumlah makanan yang kita miliki menjadi berkurang.

Namun, berbagi merupakan perbuatan baik yang sangat disukai Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 261 tentang keutamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Melalui pembelajaran ini, kita belajar:

🌷 Bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

🌷 Senang berbagi kepada teman.

🌷 Tidak bersikap pelit.

🌷 Menghargai setiap pemberian.

🌷 Menggunakan benda yang dimiliki dengan bijak.

Mari kita menjadi anak yang pandai berhitung, rajin belajar, dan senang berbagi kepada sesama.

💗 6. Keterkaitan dengan Asmaul Husna

🌷 1. Ar-Razzaq — Maha Pemberi Rezeki

Allah SWT memiliki nama Ar-Razzaq, artinya Maha Pemberi Rezeki.

Allah SWT memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya.

Contoh penerapan:

  • Bersyukur atas makanan yang diberikan Allah.

  • Tidak membuang-buang makanan.

  • Mau berbagi makanan kepada teman.

  • Menghargai pemberian orang lain.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar bahwa berbagi merupakan salah satu bentuk rasa syukur atas rezeki dari Allah SWT.

🌷 2. Al-Wahhab — Maha Pemberi Karunia

Allah SWT memiliki nama Al-Wahhab, artinya Maha Pemberi Karunia.

Allah memberikan banyak karunia kepada manusia tanpa mengharapkan balasan.

Contoh penerapan:

  • Senang memberikan bantuan kepada teman.

  • Mau berbagi alat tulis.

  • Memberikan sebagian makanan kepada orang lain.

  • Tidak mengharapkan imbalan ketika membantu.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar untuk senang memberi dan berbagi kepada sesama.

🌷 3. Asy-Syakur — Maha Menghargai dan Membalas Kebaikan

Allah SWT memiliki nama Asy-Syakur, artinya Maha Menghargai dan Membalas Kebaikan.

Sebagai manusia, kita harus selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Contoh penerapan:

  • Mengucapkan Alhamdulillah setelah mendapatkan rezeki.

  • Menjaga barang yang dimiliki.

  • Tidak menyia-nyiakan makanan.

  • Menggunakan benda sesuai kebutuhan.

Pesan: Anak yang hebat adalah anak yang pandai berhitung, selalu bersyukur, dan senang berbagi kepada sesama.

Yuk, kita belajar menjadi anak yang pintar, rajin, dan penuh rasa syukur!

Yuk simak video pembelajaran berikut:



🌷 7. Kegiatan Pembelajaran

Yuk, kita belajar menyelesaikan soal cerita pengurangan melalui kegiatan yang menyenangkan!

A. Ayo Amati dan Pahami!

Guru menunjukkan beberapa gambar benda yang berkaitan dengan pengurangan.

Peserta didik mengamati gambar dengan saksama.

Guru membacakan soal cerita sederhana, kemudian mengajak peserta didik menemukan informasi penting dalam cerita.

Contoh kegiatan:

  • Ada 10 apel, kemudian 3 apel dimakan.

  • Ada 8 pensil, kemudian 2 pensil diberikan.

  • Ada 15 balon, kemudian 5 balon terbang.

  • Ada 12 bunga, kemudian 4 bunga dipetik.

Ayo, jawab pertanyaan berikut!

  1. Berapa jumlah benda mula-mula?

  2. Berapa jumlah benda yang diambil?

  3. Apakah jumlah benda bertambah atau berkurang?

  4. Operasi hitung apakah yang digunakan?

  5. Berapa jumlah benda yang tersisa?

B. Ayo Praktik Menghitung!

Guru membagikan benda konkret seperti stik es krim, pensil, atau penghapus kepada peserta didik.

Peserta didik diminta mempraktikkan pengurangan menggunakan benda tersebut.

Contoh kegiatan:

Situasi 1:

Peserta didik memiliki 10 stik es krim. Kemudian, 4 stik dipisahkan. Berapa stik yang tersisa?

Situasi 2:

Peserta didik memiliki 15 pensil. Kemudian, 5 pensil diberikan kepada teman. Berapa pensil yang tersisa?

Situasi 3:

Peserta didik memiliki 12 penghapus. Kemudian, 3 penghapus diambil. Berapa penghapus yang tersisa?

Peserta didik menghitung benda yang tersisa dan menuliskan kalimat matematikanya.

Guru memberikan bimbingan dan penguatan terhadap jawaban peserta didik.

C. Ayo Diskusi Bersama!

Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil atau berpasangan.

Setiap kelompok mendapatkan contoh permasalahan sederhana tentang pengurangan.

Peserta didik berdiskusi untuk menemukan jawaban dari permasalahan tersebut.

Contoh permasalahan:

Situasi 1: Rani memiliki 14 permen. Sebanyak 4 permen diberikan kepada adiknya. Berapa permen Rani yang tersisa?

Situasi 2: Budi memiliki 16 kelereng. Sebanyak 6 kelereng hilang. Berapa kelereng Budi sekarang?

Situasi 3: Ibu membeli 20 buah jeruk. Sebanyak 5 jeruk dimakan keluarga. Berapa jeruk yang tersisa?

Setelah berdiskusi, setiap kelompok menyampaikan hasil jawabannya secara sederhana.

Guru memberikan apresiasi kepada peserta didik yang berani menyampaikan pendapat.

D. Ayo Bermain "Berapa Sisanya?" 🌷

Guru mengajak peserta didik bermain menghitung pengurangan.

Guru menyebutkan sebuah cerita sederhana, kemudian peserta didik menjawab hasil pengurangannya.

Contoh permainan:

  • Ada 10 apel, 2 apel dimakan. Berapa sisanya?

  • Ada 15 balon, 5 balon terbang. Berapa sisanya?

  • Ada 12 pensil, 3 pensil diberikan. Berapa sisanya?

  • Ada 18 burung, 8 burung terbang. Berapa sisanya?

  • Ada 20 permen, 10 permen dibagikan. Berapa sisanya?

Peserta didik yang mengetahui jawabannya mengangkat tangan terlebih dahulu.

Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menjawab dan menjelaskan cara menghitungnya.

Guru memberikan apresiasi kepada seluruh peserta didik yang telah berpartisipasi.

E. Ayo Kerjakan LKPD!

💗 LATIHAN MANDIRI

Ayo, kerjakan soal berikut dengan benar!


💗 PENUTUP

Alhamdulillah, anak-anak hebat! Hari ini kita telah belajar tentang soal cerita pengurangan. 💗

Kita telah belajar memahami cerita, menentukan jumlah benda mula-mula, menghitung benda yang berkurang, serta mencari jumlah benda yang masih tersisa.

Ingat ya, sholeh dan sholehah!

🌷 Pengurangan digunakan untuk menghitung jumlah benda yang berkurang.

🌷 Bacalah soal cerita dengan teliti.

🌷 Perhatikan jumlah benda mula-mula.

🌷 Gunakan simbol pengurangan (−).

🌷 Hitunglah jumlah benda yang tersisa dengan benar.

🌷 Jangan lupa bersyukur atas nikmat Allah SWT.

🌷 Biasakan berbagi dan membantu teman.

Semoga kita menjadi anak yang pintar berhitung, rajin belajar, teliti, selalu bersyukur, dan senang berbagi kepada sesama.

Alhamdulillahirabbil'alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rabu, 04 November 2026 Pendidkan Pancasila

  KELAS 1C SD AL AZHAR 2

BANDAR  LAMPUNG



📌 IDENTITAS
Nama Guru: Hesti Windari, S.Pd. dan Silva Ayuningsih, S.Pd.
Hari/Tanggal: Rabu, 04 November r 2026
Fase/Kelas: A / 1C Ustman Bin Affan
Mata Pelajaran: Pendidikan Pancasila
Materi : Membedakan perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan
Pertemuan Ke: 4 (2 JP)


💗 CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu mengenal dan memahami aturan yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Peserta didik dapat mengidentifikasi dan membedakan perilaku yang sesuai dan tidak sesuai aturan, menjelaskan manfaat mematuhi aturan serta akibat melanggar aturan, dan membiasakan diri berperilaku disiplin, tertib, dan bertanggung jawab.

💗 TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik dapat:

  1. Menjelaskan pengertian perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan dengan bahasa sederhana.

  2. Mengenali contoh perilaku sesuai aturan di lingkungan rumah dan sekolah.

  3. Mengenali contoh perilaku tidak sesuai aturan di lingkungan rumah dan sekolah.

  4. Membedakan perilaku yang sesuai dan tidak sesuai aturan berdasarkan gambar atau cerita sederhana.

  5. Menjelaskan manfaat mematuhi aturan dan akibat tidak mematuhi aturan.

  6. Membiasakan diri berperilaku disiplin dan bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

🌷 1. Mindful (Berkesadaran)

Sholeh dan sholehah, sebelum belajar, mari kita duduk dengan tertib dan memusatkan perhatian.

Hari ini kita akan belajar tentang membedakan perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan.

Setiap hari, kita memiliki aturan yang harus dipatuhi, baik di rumah maupun di sekolah.

Aturan dibuat agar kehidupan menjadi tertib, aman, nyaman, dan menyenangkan.

Coba perhatikan dan pikirkan beberapa pertanyaan berikut!

✏️ Apakah kalian selalu merapikan mainan setelah selesai bermain?

✏️ Apa yang kalian lakukan ketika guru sedang menjelaskan pelajaran?

✏️ Apakah membuang sampah sembarangan termasuk perilaku yang baik?

✏️ Bagaimana sikap kita ketika sedang mengantre?

✏️ Apa yang terjadi jika kita tidak mematuhi aturan?

Ayo, perhatikan cerita berikut!

Cerita 1: Dina Anak yang Tertib 🏡

Dina Selalu Mematuhi Aturan

Dina adalah anak yang rajin dan disiplin.

Setiap pagi, Dina bangun tidur dan merapikan tempat tidurnya.

Setelah mandi, Dina membantu ibu merapikan meja makan.

Sebelum berangkat sekolah, Dina berpamitan kepada ayah dan ibu.

Sesampainya di sekolah, Dina datang tepat waktu dan memberi salam kepada guru.

Saat guru menjelaskan pelajaran, Dina mendengarkan dengan baik.

Ketika selesai bermain, Dina selalu merapikan mainannya.

Ibu dan guru merasa senang karena Dina selalu mematuhi aturan.

Ayo, kita pahami ceritanya!

  1. Siapa anak yang selalu mematuhi aturan? Dina.

  2. Apa yang dilakukan Dina setelah bangun tidur? Merapikan tempat tidur.

  3. Bagaimana sikap Dina ketika guru menjelaskan? Mendengarkan dengan baik.

  4. Apa yang dilakukan Dina setelah selesai bermain? Merapikan mainannya.

  5. Apakah perilaku Dina sesuai dengan aturan? Ya, sesuai aturan.

Apa saja perilaku baik yang dilakukan Dina?

🌷 Merapikan tempat tidur setelah bangun.

🌷 Membantu ibu di rumah.

🌷 Berpamitan kepada orang tua.

🌷 Datang ke sekolah tepat waktu.

🌷 Mendengarkan guru ketika menjelaskan.

🌷 Merapikan mainan setelah digunakan.

Melalui cerita ini, peserta didik belajar bahwa mematuhi aturan merupakan perilaku baik yang harus dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari.

🌷 2. Meaningful (Bermakna)

Sholeh dan sholehah, selain mematuhi aturan, kita juga harus mengetahui perilaku yang tidak sesuai aturan.

Perilaku tidak sesuai aturan adalah tindakan yang melanggar ketentuan atau tata tertib yang telah dibuat.

Jika kita tidak mematuhi aturan, kegiatan sehari-hari dapat terganggu dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.

Cerita 2: Beni Anak yang Kurang Tertib 🏫

Beni Belum Mematuhi Aturan

Beni adalah anak yang suka bermain.

Suatu pagi, Beni bangun kesiangan sehingga datang terlambat ke sekolah.

Sesampainya di kelas, Beni langsung berlari dan tidak memberi salam kepada guru.

Ketika guru menjelaskan pelajaran, Beni berbicara sendiri.

Saat waktu istirahat, Beni membuang bungkus makanan di lantai.

Setelah bermain, Beni membiarkan mainannya berserakan.

Guru kemudian mengingatkan Beni agar belajar mematuhi aturan.

Beni menyadari kesalahannya dan berjanji menjadi anak yang lebih tertib.

Ayo, kita pahami ceritanya!

  1. Siapa anak yang belum mematuhi aturan? Beni.

  2. Mengapa Beni terlambat ke sekolah? Karena bangun kesiangan.

  3. Apa yang dilakukan Beni ketika guru menjelaskan? Berbicara sendiri.

  4. Di mana Beni membuang bungkus makanan? Di lantai.

  5. Apakah perilaku Beni sesuai aturan? Tidak sesuai aturan.

Apa saja perilaku tidak baik yang dilakukan Beni?

🌷 Datang terlambat ke sekolah.

🌷 Tidak memberi salam kepada guru.

🌷 Berbicara ketika guru menjelaskan.

🌷 Membuang sampah sembarangan.

🌷 Tidak merapikan mainan setelah bermain.

Melalui cerita ini, peserta didik belajar bahwa perilaku tidak sesuai aturan dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.

Cerita 3: Rani dan Siti Saat Bermain 🌷

Rani dan Siti sedang bermain bersama di halaman sekolah.

Mereka ingin bermain ayunan.

Rani datang terlebih dahulu dan mengajak Siti untuk mengantre.

Siti mengikuti ajakan Rani dengan tertib.

Namun, ketika melihat ayunan kosong, seorang anak langsung menyerobot antrean.

Rani mengingatkan anak tersebut agar menunggu giliran.

Akhirnya, mereka bermain secara bergantian dengan tertib.

Dari cerita tersebut, kita belajar:

🌷 Mengantre dengan tertib merupakan perilaku sesuai aturan.

🌷 Bermain secara bergantian merupakan perilaku baik.

🌷 Menyerobot antrean merupakan perilaku tidak sesuai aturan.

🌷 Menghargai giliran teman membuat permainan menjadi menyenangkan.

💗 Keterkaitan dengan Asmaul Husna

🌷 1. Al-Hakam — Maha Menetapkan Hukum

Allah SWT memiliki nama Al-Hakam, artinya Maha Menetapkan Hukum.

Allah SWT menetapkan ketentuan bagi seluruh makhluk-Nya.

Sebagai manusia, kita juga harus belajar menghargai aturan dan ketentuan yang baik.

Contoh penerapan:

  • Mematuhi aturan di rumah.

  • Mengikuti tata tertib sekolah.

  • Mendengarkan nasihat orang tua.

  • Melaksanakan kewajiban dengan baik.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar untuk menghargai dan menaati aturan.

🌷 2. Al-'Adl — Maha Adil

Allah SWT memiliki nama Al-'Adl, artinya Maha Adil.

Allah SWT Maha Adil kepada seluruh makhluk-Nya.

Kita juga harus bersikap adil kepada orang lain dan tidak boleh mementingkan diri sendiri.

Contoh penerapan:

  • Bermain secara bergantian.

  • Tidak menyerobot antrean.

  • Berbagi dengan teman.

  • Tidak membeda-bedakan teman.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar bahwa mematuhi aturan dapat menciptakan keadilan dan keharmonisan.

🌷 3. As-Sami' — Maha Mendengar

Allah SWT memiliki nama As-Sami', artinya Maha Mendengar.

Allah Maha Mendengar setiap doa dan perkataan hamba-Nya.

Kita juga harus membiasakan diri mendengarkan nasihat orang tua dan arahan guru.

Contoh penerapan:

  • Mendengarkan guru saat menjelaskan.

  • Memperhatikan nasihat orang tua.

  • Tidak memotong pembicaraan.

  • Melaksanakan arahan guru dengan baik.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar menjadi anak yang mau mendengarkan nasihat dan mematuhi aturan.

Pesan: Anak yang baik adalah anak yang disiplin, adil, mau mendengarkan nasihat, dan bertanggung jawab.

Yuk, kita belajar menjadi anak yang tertib dan selalu melakukan kebaikan!


Yuk simak video pembelajaran dibawah ini:






💗 3. Mengenal Perilaku Sesuai dan Tidak Sesuai Aturan

Sholeh dan sholehah, sekarang kita akan mengenal lebih jauh perbedaan perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan.

A. Perilaku Sesuai Aturan

Perilaku sesuai aturan adalah tindakan yang dilakukan dengan menaati ketentuan atau tata tertib yang berlaku.

Contoh perilaku sesuai aturan di rumah:

  1. Bangun tidur tepat waktu.

  2. Merapikan tempat tidur.

  3. Membantu orang tua.

  4. Berpamitan sebelum pergi.

  5. Merapikan mainan setelah bermain.

  6. Belajar sesuai jadwal.

  7. Menjaga kebersihan rumah.

Contoh perilaku sesuai aturan di sekolah:

  1. Datang ke sekolah tepat waktu.

  2. Memakai seragam sesuai ketentuan.

  3. Berdoa sebelum belajar.

  4. Mendengarkan guru saat menjelaskan.

  5. Mengangkat tangan sebelum berbicara.

  6. Membuang sampah pada tempatnya.

  7. Bermain dengan tertib.

  8. Menghormati guru dan menyayangi teman.

B. Perilaku Tidak Sesuai Aturan

Perilaku tidak sesuai aturan adalah tindakan yang dilakukan dengan melanggar ketentuan atau tata tertib yang berlaku.

Contoh perilaku tidak sesuai aturan di rumah:

  1. Tidak merapikan tempat tidur.

  2. Membiarkan mainan berserakan.

  3. Membantah nasihat orang tua.

  4. Tidak mau membantu orang tua.

  5. Bermain hingga lupa waktu.

  6. Mengotori rumah.

  7. Tidak melaksanakan tugas yang diberikan.

Contoh perilaku tidak sesuai aturan di sekolah:

  1. Datang terlambat ke sekolah.

  2. Tidak memakai seragam sesuai ketentuan.

  3. Berbicara saat guru menjelaskan.

  4. Membuang sampah sembarangan.

  5. Mengganggu teman saat belajar.

  6. Menyerobot antrean.

  7. Berlari-lari di dalam kelas.

  8. Tidak menjaga kebersihan kelas.

C. Perbedaan Perilaku Sesuai dan Tidak Sesuai Aturan

Ayo, perhatikan tabel berikut!

Perilaku Sesuai Aturan

Perilaku Tidak Sesuai Aturan

Datang tepat waktu.

Datang terlambat.

Membuang sampah pada tempatnya.

Membuang sampah sembarangan.

Mendengarkan guru.

Berbicara saat guru menjelaskan.

Mengantre dengan tertib.

Menyerobot antrean.

Merapikan mainan.

Membiarkan mainan berserakan.

Membantu orang tua.

Tidak mau membantu orang tua.

D. Manfaat Mematuhi Aturan

Sholeh dan sholehah, mematuhi aturan memiliki banyak manfaat.

Berikut beberapa manfaatnya:

🌷 1. Hidup Menjadi Tertib

Contoh: Datang ke sekolah tepat waktu.

🌷 2. Lingkungan Menjadi Bersih

Contoh: Membuang sampah pada tempatnya.

🌷 3. Melatih Sikap Disiplin

Contoh: Belajar dan tidur sesuai jadwal.

🌷 4. Menghindari Pertengkaran

Contoh: Bermain secara bergantian dengan teman.

🌷 5. Menciptakan Suasana Nyaman

Contoh: Mendengarkan guru ketika menjelaskan.

E. Akibat Tidak Mematuhi Aturan

Jika kita tidak mematuhi aturan, ada beberapa akibat yang dapat terjadi.

  1. Rumah menjadi berantakan.

  2. Lingkungan menjadi kotor.

  3. Kegiatan belajar terganggu.

  4. Teman merasa tidak nyaman.

  5. Dapat terjadi pertengkaran.

  6. Kita menjadi kurang disiplin.

Ingat ya, sholeh dan sholehah!

Anak yang hebat bukan hanya anak yang pandai, tetapi juga anak yang mau mematuhi aturan dan bertanggung jawab.

💗 4. Mengenal Sikap yang Baik dalam Kehidupan Sehari-hari

Ayo, perhatikan beberapa contoh perilaku berikut!

A. Perilaku di Rumah 🏡



  • Merapikan tempat tidur setelah bangun merupakan perilaku sesuai aturan.

  • Membantu ibu membersihkan rumah merupakan perilaku sesuai aturan.

  • Membiarkan mainan berserakan merupakan perilaku tidak sesuai aturan.

B. Perilaku di Sekolah 🏫



  • Mendengarkan guru ketika menjelaskan merupakan perilaku sesuai aturan.

  • Berbaris dengan tertib merupakan perilaku sesuai aturan.

  • Membuang sampah di lantai merupakan perilaku tidak sesuai aturan.

C. Perilaku di Lingkungan Bermain 🌳



  • Bermain secara bergantian merupakan perilaku sesuai aturan.

  • Berbagi mainan dengan teman merupakan perilaku baik.

  • Menyerobot antrean dan mendorong teman merupakan perilaku tidak sesuai aturan.

💗 5. Keterkaitan dengan Kebesaran Allah SWT

Sholeh dan sholehah, Allah SWT menciptakan alam semesta dengan sangat teratur.

Matahari terbit pada pagi hari dan terbenam pada sore hari.

Siang dan malam silih berganti.

Bulan dan bintang menghiasi langit.

Semua ciptaan Allah SWT berjalan sesuai ketentuan-Nya.

Sebagai manusia, kita juga harus belajar hidup dengan tertib dan mematuhi aturan yang baik.

Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 59 yang mengajarkan kita untuk taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar:

🌷 Menaati aturan yang baik.

🌷 Menghormati orang tua dan guru.

🌷 Membiasakan diri bersikap disiplin.

🌷 Tidak mengganggu orang lain.

🌷 Menjaga kebersihan lingkungan.

🌷 Bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.

Mari kita membiasakan diri melakukan perilaku baik dan menghindari perilaku yang tidak sesuai aturan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT.

🌷 7. Kegiatan Pembelajaran

Yuk, kita belajar membedakan perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan melalui kegiatan yang menyenangkan!

A. Ayo Amati dan Pahami!

Guru menunjukkan beberapa gambar perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik mengamati gambar dengan saksama.

Guru mengajak peserta didik mengidentifikasi perilaku yang menunjukkan sikap sesuai aturan dan tidak sesuai aturan.

Contoh kegiatan:

  • Anak merapikan tempat tidur.

  • Anak membuang sampah sembarangan.

  • Anak mendengarkan guru.

  • Anak mengganggu teman saat belajar.

  • Anak mengantre dengan tertib.

  • Anak menyerobot antrean.

Ayo, jawab pertanyaan berikut!

  1. Perilaku manakah yang sesuai aturan?

  2. Mengapa kita harus mendengarkan guru?

  3. Apa akibat membuang sampah sembarangan?

  4. Mengapa kita harus mengantre dengan tertib?

  5. Apa yang harus dilakukan setelah selesai bermain?

B. Ayo Diskusi Bersama!

Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil atau berpasangan.

Setiap kelompok mendapatkan contoh permasalahan sederhana tentang aturan di rumah dan sekolah.

Peserta didik berdiskusi untuk menentukan apakah perilaku tersebut sesuai atau tidak sesuai aturan.

Contoh permasalahan:

Situasi 1: Rani selalu membuang sampah pada tempatnya. Apakah perilaku Rani sesuai aturan? Mengapa?

Situasi 2: Budi berbicara sendiri ketika guru menjelaskan. Apakah perilaku Budi sesuai aturan? Mengapa?

Situasi 3: Siti merapikan mainannya setelah selesai bermain. Apakah perilaku Siti sesuai aturan? Mengapa?

Situasi 4: Andi menyerobot antrean ketika membeli makanan. Apakah perilaku Andi sesuai aturan? Mengapa?

Setelah berdiskusi, setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya secara sederhana.

Guru memberikan penguatan terhadap jawaban peserta didik.

C. Ayo Bermain "Sesuai atau Tidak Sesuai?" 🌷

Guru membacakan beberapa contoh perilaku.

Peserta didik mendengarkan dan menentukan apakah perilaku tersebut sesuai atau tidak sesuai aturan.

Aturan permainan:

  • Jika perilaku sesuai aturan, peserta didik mengangkat kedua tangan.

  • Jika perilaku tidak sesuai aturan, peserta didik meletakkan kedua tangan di atas meja.

Contoh perilaku:

  1. Merapikan tempat tidur setelah bangun.

  2. Membuang sampah sembarangan.

  3. Mendengarkan guru saat belajar.

  4. Menyerobot antrean.

  5. Membantu orang tua di rumah.

  6. Mengganggu teman saat belajar.

  7. Datang ke sekolah tepat waktu.

  8. Membiarkan mainan berserakan.

Guru memberikan apresiasi kepada peserta didik yang aktif dan berani menjawab.

D. Ayo Biasakan Perilaku Baik!

Guru mengajak peserta didik menyebutkan satu perilaku sesuai aturan yang akan dilakukan mulai hari ini.

Contohnya:

🌷 Saya akan merapikan tempat tidur.

🌷 Saya akan datang ke sekolah tepat waktu.

🌷 Saya akan mendengarkan guru.

🌷 Saya akan membuang sampah pada tempatnya.

🌷 Saya akan mengantre dengan tertib.

🌷 Saya akan membantu orang tua.

Peserta didik menyampaikan janji sederhana untuk menjadi anak yang disiplin dan bertanggung jawab.

💗 LATIHAN MANDIRI


💗 PENUTUP

Alhamdulillah, anak-anak hebat! Hari ini kita telah belajar membedakan perilaku sesuai dan tidak sesuai aturan. 💗

Kita telah belajar mengenal contoh perilaku yang sesuai aturan dan perilaku yang tidak sesuai aturan, baik di rumah maupun di sekolah.

Ingat ya, sholeh dan sholehah!

🌷 Patuhi aturan di rumah dan di sekolah.

🌷 Datanglah ke sekolah tepat waktu.

🌷 Dengarkan nasihat orang tua dan guru.

🌷 Jagalah kebersihan lingkungan.

🌷 Jangan mengganggu teman.

🌷 Biasakan mengantre dengan tertib.

🌷 Bertanggung jawablah atas perbuatan sendiri.

🌷 Hindari perilaku yang melanggar aturan.

Semoga kita menjadi anak yang saleh dan salehah, disiplin, bertanggung jawab, serta selalu membiasakan diri melakukan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.

Alhamdulillahirabbil'alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rabu, 04 November 2026 PAK

 KELAS 1C SD AL AZHAR 2

BANDAR  LAMPUNG



📌 IDENTITAS
Nama Guru : Hesti Windari, S.Pd. dan Silva Ayuningsih, S.Pd.
Hari/Tanggal: Rabu, 03 November 2026
Fase/Kelas: A / 1C Ustman Bin Affan
Mata Pelajaran: Pendidikan Anti Korupsi
Materi: Menerapkan sikap mandiri dilingkungan sekolah
Pertemuan Ke: 13 (1 JP)

💗 CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu mengenal dan memahami nilai-nilai antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya sikap mandiri. Peserta didik dapat mengidentifikasi contoh perilaku mandiri di lingkungan sekolah, membedakan perilaku mandiri dan tidak mandiri, serta membiasakan diri melakukan tugas dan tanggung jawab tanpa selalu bergantung kepada orang lain.

💗 TUJUAN PEMBELAJARAN

Peserta didik dapat:

  1. Menjelaskan pengertian sikap mandiri dengan bahasa sederhana.

  2. Menyebutkan contoh perilaku mandiri di lingkungan sekolah.

  3. Membedakan perilaku mandiri dan tidak mandiri.

  4. Menjelaskan manfaat membiasakan sikap mandiri.

  5. Menunjukkan sikap mandiri dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

  6. Membiasakan diri bertanggung jawab terhadap tugas dan keperluan pribadi.

🌷 1. Mindful (Berkesadaran)

Sholeh dan sholehah, sebelum belajar, mari kita duduk dengan tertib dan memusatkan perhatian.

Hari ini kita akan belajar tentang menerapkan sikap mandiri di sekolah.

Setiap anak harus belajar melakukan kegiatan sendiri tanpa selalu meminta bantuan orang lain.

Sikap mandiri perlu kita biasakan sejak kecil, baik di rumah maupun di sekolah.

Coba perhatikan dan pikirkan beberapa pertanyaan berikut!

✏️ Siapa yang menyiapkan alat tulis sendiri sebelum belajar?

✏️ Apakah kalian merapikan tas sendiri setelah selesai belajar?

✏️ Apa yang kalian lakukan jika pensil jatuh ke lantai?

✏️ Apakah kalian selalu meminta bantuan teman ketika mengerjakan tugas?

✏️ Mengapa kita harus belajar melakukan sesuatu sendiri?

Ayo, perhatikan cerita berikut!

Cerita 1: Rani Anak yang Mandiri 🎒

Rani Senang Melakukan Kegiatan Sendiri

Rani adalah anak yang rajin dan mandiri.

Setiap pagi, Rani menyiapkan buku dan alat tulisnya sendiri.

Sesampainya di sekolah, Rani meletakkan tas pada tempatnya.

Sebelum belajar, Rani menyiapkan buku sesuai pelajaran hari itu.

Ketika pensilnya jatuh, Rani mengambilnya sendiri.

Saat guru memberikan tugas, Rani mengerjakannya dengan sungguh-sungguh tanpa menyontek pekerjaan teman.

Setelah selesai belajar, Rani merapikan kembali alat tulis dan bukunya.

Guru merasa senang karena Rani menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

Ayo, kita pahami ceritanya!

  1. Siapa anak yang memiliki sikap mandiri? Rani.

  2. Apa yang disiapkan Rani sebelum berangkat sekolah? Buku dan alat tulis.

  3. Apa yang dilakukan Rani ketika pensilnya jatuh? Mengambilnya sendiri.

  4. Bagaimana sikap Rani ketika mengerjakan tugas? Mengerjakan sendiri dengan sungguh-sungguh.

  5. Apa yang dilakukan Rani setelah selesai belajar? Merapikan alat tulis dan bukunya.

Apa saja perilaku mandiri yang dilakukan Rani?

🌷 Menyiapkan alat tulis sendiri.

🌷 Meletakkan tas pada tempatnya.

🌷 Mengambil pensil yang jatuh sendiri.

🌷 Mengerjakan tugas sendiri.

🌷 Merapikan buku dan alat tulis.

Melalui cerita ini, peserta didik belajar bahwa sikap mandiri dapat dimulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan setiap hari di sekolah.

🌷 2. Meaningful (Bermakna)

Sholeh dan sholehah, sikap mandiri sangat penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di sekolah, kita memiliki banyak kegiatan yang dapat dilakukan sendiri.

Misalnya, menyiapkan alat tulis, mengerjakan tugas, merapikan meja, dan menjaga barang milik sendiri.

Dengan bersikap mandiri, kita belajar menjadi anak yang tidak selalu bergantung kepada orang lain.

Cerita 2: Budi Anak yang Mau Berusaha ✏️

Budi Belajar Menjadi Mandiri

Budi adalah anak yang sedang belajar menjadi mandiri.

Setiap kali masuk kelas, Budi selalu meminta temannya mengambilkan buku.

Ketika guru memberikan tugas, Budi meminta temannya mengerjakan soal.

Budi juga sering tidak merapikan alat tulisnya setelah belajar.

Suatu hari, guru menasihati Budi agar belajar melakukan tugasnya sendiri.

Guru menjelaskan bahwa setiap anak harus berusaha dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.

Sejak saat itu, Budi mulai menyiapkan buku sendiri, mengerjakan tugas dengan kemampuannya, dan merapikan alat tulis setelah belajar.

Budi merasa senang karena mulai bisa melakukan banyak hal sendiri.

Ayo, kita pahami ceritanya!

  1. Siapa anak yang sedang belajar menjadi mandiri? Budi.

  2. Apa yang sering diminta Budi kepada temannya? Mengambilkan buku dan mengerjakan tugas.

  3. Apa nasihat guru kepada Budi? Belajar melakukan tugas sendiri.

  4. Apa yang dilakukan Budi setelah mendapat nasihat? Mulai melakukan tugasnya sendiri.

  5. Bagaimana perasaan Budi setelah belajar mandiri? Senang.

Dari cerita ini, kita belajar bahwa sikap mandiri harus dibiasakan sejak kecil.

Cerita 3: Siti Mengerjakan Tugas Sendiri 📚

Siti sedang mengikuti kegiatan belajar di kelas.

Guru memberikan tugas menulis beberapa kalimat sederhana.

Siti mulai mengerjakan tugasnya dengan teliti.

Ketika melihat temannya sudah selesai, Siti tidak meminta jawaban temannya.

Siti tetap berusaha menyelesaikan tugas sesuai kemampuannya.

Jika ada soal yang belum dipahami, Siti mengangkat tangan dan bertanya kepada guru.

Setelah selesai, Siti mengumpulkan tugasnya sendiri.

Guru memuji Siti karena telah berusaha mandiri dan jujur.

Dari cerita tersebut, kita belajar:

🌷 Berusaha mengerjakan tugas sendiri.

🌷 Tidak menyontek pekerjaan teman.

🌷 Tidak bergantung kepada teman.

🌷 Berani bertanya kepada guru ketika belum memahami pelajaran.

🌷 Bertanggung jawab menyelesaikan tugas.

Melalui cerita ini, peserta didik memahami bahwa mandiri bukan berarti tidak boleh meminta bantuan. Kita tetap boleh bertanya ketika mengalami kesulitan, tetapi harus mau berusaha terlebih dahulu.


Yuk simak video pembelajaran berikut:



💗 3. Mengenal Sikap Mandiri

Sholeh dan sholehah, sekarang kita akan mengenal lebih jauh tentang sikap mandiri.

Sikap mandiri adalah perilaku mampu melakukan sesuatu atau menyelesaikan tugas sendiri tanpa selalu bergantung kepada bantuan orang lain.

Anak yang mandiri mau berusaha, percaya pada kemampuannya, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya.

A. Contoh Sikap Mandiri di Sekolah

Beberapa contoh perilaku mandiri yang dapat kita lakukan di sekolah:

  1. Menyiapkan buku dan alat tulis sendiri.

  2. Membawa perlengkapan sekolah sendiri.

  3. Meletakkan tas pada tempatnya.

  4. Mengerjakan tugas sendiri.

  5. Mengambil alat tulis yang jatuh.

  6. Merapikan meja setelah belajar.

  7. Membuang sampah pada tempatnya.

  8. Mengembalikan buku ke tempat semula.

  9. Menjaga barang milik sendiri.

  10. Mengumpulkan tugas tepat waktu.

B. Contoh Sikap Tidak Mandiri di Sekolah

Berikut contoh perilaku yang menunjukkan kurangnya sikap mandiri:

  1. Selalu meminta teman mengambilkan alat tulis.

  2. Meminta orang lain mengerjakan tugas.

  3. Tidak mau merapikan meja sendiri.

  4. Selalu meminta bantuan untuk hal yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.

  5. Tidak mau berusaha ketika menghadapi kesulitan.

  6. Membiarkan barang pribadi berserakan.

  7. Selalu menunggu teman menyelesaikan pekerjaan.

  8. Tidak mau bertanggung jawab terhadap tugas sendiri.

C. Manfaat Memiliki Sikap Mandiri

Sholeh dan sholehah, sikap mandiri memiliki banyak manfaat.

🌷 1. Melatih Tanggung Jawab

Kita belajar bertanggung jawab terhadap tugas dan barang milik sendiri.

Contoh: Merapikan alat tulis setelah belajar.

🌷 2. Melatih Percaya Diri

Kita menjadi lebih yakin terhadap kemampuan diri sendiri.

Contoh: Berani mengerjakan tugas tanpa selalu meminta bantuan teman.

🌷 3. Menjadi Anak yang Disiplin

Kita belajar melakukan kegiatan sesuai waktu dan aturan.

Contoh: Menyiapkan buku sebelum pelajaran dimulai.

🌷 4. Tidak Selalu Bergantung kepada Orang Lain

Kita terbiasa berusaha melakukan sesuatu sendiri.

Contoh: Mengambil botol minum sendiri.

🌷 5. Melatih Kejujuran

Kita belajar mengerjakan tugas sesuai kemampuan sendiri tanpa menyontek.

Contoh: Mengerjakan soal ujian tanpa melihat jawaban teman.

🌷 6. Menjadi Lebih Terampil

Kita semakin terbiasa melakukan berbagai kegiatan sederhana.

Contoh: Merapikan tas dan perlengkapan sekolah sendiri.

D. Mandiri Bukan Berarti Tidak Boleh Meminta Bantuan

Sholeh dan sholehah, anak yang mandiri bukan berarti harus melakukan semua hal sendirian.

Jika kita sudah berusaha tetapi masih mengalami kesulitan, kita boleh meminta bantuan kepada guru atau teman.

Contohnya:

  • Bertanya kepada guru jika belum memahami pelajaran.

  • Meminta bantuan ketika mengalami kesulitan membuka sesuatu.

  • Meminta pertolongan ketika terjatuh atau terluka.

  • Meminta penjelasan ketika belum memahami tugas.

Ingat ya, kita harus mau berusaha terlebih dahulu sebelum meminta bantuan.

💗 4. Mengenal Perilaku Mandiri dan Tidak Mandiri di Sekolah

Ayo, perhatikan perbedaan perilaku berikut!

A. Perilaku Mandiri



  • Menyiapkan buku sendiri.

  • Mengerjakan tugas sendiri.

  • Merapikan meja setelah belajar.

  • Mengembalikan alat tulis ke tempatnya.

  • Membuang sampah pada tempatnya.

B. Perilaku Tidak Mandiri



  • Meminta teman mengerjakan tugas.

  • Selalu meminta orang lain mengambilkan barang.

  • Tidak mau merapikan meja.

  • Membiarkan alat tulis berserakan.

  • Tidak mau berusaha menyelesaikan pekerjaan sendiri.

C. Perbedaan Perilaku Mandiri dan Tidak Mandiri

Perilaku Mandiri

Perilaku Tidak Mandiri

Menyiapkan buku sendiri.

Selalu meminta disiapkan teman.

Mengerjakan tugas sendiri.

Meminta teman mengerjakan tugas.

Merapikan meja sendiri.

Membiarkan meja berantakan.

Menjaga alat tulis sendiri.

Tidak peduli dengan barang sendiri.

Berusaha menyelesaikan tugas.

Mudah menyerah dan tidak mau mencoba.

Ingat ya, sholeh dan sholehah!

Anak yang mandiri adalah anak yang mau berusaha, tidak mudah menyerah, dan bertanggung jawab terhadap tugasnya sendiri.

💗 5. Keterkaitan dengan Nilai Pendidikan Anti Korupsi

Sholeh dan sholehah, sikap mandiri merupakan salah satu nilai penting dalam Pendidikan Anti Korupsi.

Mandiri berarti tidak selalu bergantung kepada orang lain dan berani berusaha melakukan sesuatu dengan kemampuan sendiri.

Sikap mandiri juga mengajarkan kita untuk tidak mengambil jalan pintas yang tidak benar.

Contohnya:

🌷 Mengerjakan tugas sendiri tanpa menyontek.

🌷 Tidak meminta teman mengerjakan tugas kita.

🌷 Berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan kemampuan sendiri.

🌷 Tidak bergantung kepada orang lain untuk hal yang bisa dilakukan sendiri.

🌷 Bertanggung jawab terhadap barang milik pribadi.

🌷 Berani mencoba meskipun belum berhasil.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar bahwa menjadi anak mandiri berarti berani berusaha, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab.

Mari kita biasakan sikap mandiri sejak kecil agar tumbuh menjadi pribadi yang jujur dan berintegritas.

💗 6. Keterkaitan dengan Kebesaran Allah SWT dan Asmaul Husna

Sholeh dan sholehah, Allah SWT menciptakan manusia dengan kemampuan yang berbeda-beda.

Allah memberikan kita tangan untuk melakukan kegiatan, kaki untuk berjalan, mata untuk melihat, dan akal untuk berpikir.

Semua kemampuan tersebut harus kita syukuri dan gunakan untuk melakukan kebaikan.

Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra'd ayat 11 yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar:

🌷 Mau berusaha melakukan sesuatu sendiri.

🌷 Tidak mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

🌷 Menggunakan kemampuan untuk melakukan kebaikan.

🌷 Bertanggung jawab terhadap tugas.

🌷 Bersyukur atas kemampuan yang diberikan Allah SWT.

🌷 1. Al-Qawiyy — Maha Kuat

Allah SWT memiliki nama Al-Qawiyy, artinya Maha Kuat.

Allah SWT memiliki kekuatan yang sempurna.

Sebagai manusia, kita harus menggunakan kekuatan dan kemampuan yang diberikan Allah untuk melakukan hal-hal baik.

Contoh penerapan:

  • Berusaha mengerjakan tugas sendiri.

  • Berani mencoba hal baru.

  • Tidak mudah menyerah.

  • Melakukan kegiatan sederhana tanpa selalu meminta bantuan.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar menjadi anak yang kuat, berani, dan mandiri.

🌷 2. Al-Matin — Maha Kokoh

Allah SWT memiliki nama Al-Matin, artinya Maha Kokoh.

Kita dapat belajar memiliki pendirian yang kuat dalam melakukan kebaikan.

Contoh penerapan:

  • Tetap berusaha meskipun mengalami kesulitan.

  • Tidak mudah menyerah.

  • Tidak ikut menyontek meskipun diajak teman.

  • Berani melakukan hal yang benar.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar memiliki keteguhan hati untuk melakukan kebaikan.

🌷 3. Al-Bashir — Maha Melihat

Allah SWT memiliki nama Al-Bashir, artinya Maha Melihat.

Allah SWT Maha Melihat segala sesuatu yang dilakukan oleh hamba-Nya.

Walaupun tidak ada guru yang mengawasi, kita harus tetap melakukan hal yang benar.

Contoh penerapan:

  • Mengerjakan tugas dengan jujur.

  • Tidak menyontek saat mengerjakan soal.

  • Menjaga barang milik sendiri.

  • Tetap bertanggung jawab meskipun tidak diawasi.

Melalui pembelajaran ini, peserta didik belajar bahwa kejujuran dan tanggung jawab harus dilakukan kapan saja.

Pesan: Anak yang hebat adalah anak yang mandiri, jujur, tidak mudah menyerah, dan bertanggung jawab.

Yuk, kita belajar menjadi anak yang mandiri dan selalu melakukan kebaikan!

🌷 7. Kegiatan Pembelajaran

Yuk, kita belajar menerapkan sikap mandiri di sekolah melalui kegiatan yang menyenangkan!

A. Ayo Amati dan Pahami!

Guru menunjukkan beberapa gambar perilaku anak di lingkungan sekolah.

Peserta didik mengamati gambar dengan saksama.

Guru mengajak peserta didik mengidentifikasi perilaku yang menunjukkan sikap mandiri dan tidak mandiri.

Contoh kegiatan:

  • Anak menyiapkan buku sendiri.

  • Anak meminta teman mengerjakan tugas.

  • Anak merapikan meja setelah belajar.

  • Anak membiarkan alat tulis berserakan.

  • Anak mengerjakan tugas tanpa menyontek.

  • Anak selalu meminta bantuan untuk mengambil barangnya.

Ayo, jawab pertanyaan berikut!

  1. Perilaku manakah yang menunjukkan sikap mandiri?

  2. Mengapa kita harus mengerjakan tugas sendiri?

  3. Apa yang harus dilakukan setelah selesai belajar?

  4. Mengapa kita tidak boleh menyontek pekerjaan teman?

  5. Apa manfaat menjadi anak yang mandiri?

B. Ayo Praktik Menjadi Anak Mandiri!

Guru mengajak peserta didik melakukan kegiatan sederhana di dalam kelas.

Peserta didik diminta melakukan kegiatan secara mandiri.

Contoh kegiatan:

  1. Menyiapkan buku dan alat tulis sendiri.

  2. Merapikan meja belajar.

  3. Memasukkan buku ke dalam tas.

  4. Membuang sampah pada tempatnya.

  5. Mengembalikan alat tulis ke tempat semula.

Guru mengamati peserta didik ketika melakukan kegiatan tersebut.

Setelah selesai, guru memberikan apresiasi kepada peserta didik yang telah berusaha melakukan kegiatan secara mandiri.

C. Ayo Diskusi Bersama!

Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok kecil atau berpasangan.

Setiap kelompok mendapatkan contoh permasalahan sederhana tentang sikap mandiri di sekolah.

Peserta didik berdiskusi untuk menemukan jawaban dari permasalahan tersebut.

Contoh permasalahan:

Situasi 1: Rina selalu menyiapkan buku dan alat tulisnya sendiri sebelum belajar. Apakah Rina sudah menunjukkan sikap mandiri? Mengapa?

Situasi 2: Budi meminta temannya mengerjakan tugas sekolah karena tidak mau berusaha. Apakah perilaku Budi termasuk mandiri?

Situasi 3: Siti merapikan meja dan memasukkan buku ke dalam tas setelah selesai belajar. Sikap baik apa yang ditunjukkan Siti?

Situasi 4: Andi tidak mau mengerjakan tugas sendiri dan selalu menyontek pekerjaan temannya. Apakah perilaku Andi sesuai dengan nilai mandiri dan jujur?

Setelah berdiskusi, setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya secara sederhana.

Guru memberikan penguatan terhadap jawaban peserta didik.

D. Ayo Bermain "Aku Anak Mandiri!" 🌷

Guru membacakan beberapa contoh perilaku.

Peserta didik mendengarkan dan menentukan apakah perilaku tersebut menunjukkan sikap mandiri atau tidak mandiri.

Aturan permainan:

  • Jika perilaku menunjukkan sikap mandiri, peserta didik mengangkat kedua tangan.

  • Jika perilaku menunjukkan sikap tidak mandiri, peserta didik meletakkan kedua tangan di atas meja.

Contoh perilaku:

  1. Menyiapkan buku sendiri.

  2. Meminta teman mengerjakan tugas.

  3. Merapikan meja setelah belajar.

  4. Membiarkan alat tulis berserakan.

  5. Mengerjakan tugas tanpa menyontek.

  6. Mengembalikan buku ke tempat semula.

  7. Selalu meminta teman mengambilkan barang.

  8. Berusaha menyelesaikan tugas sendiri.

Guru memberikan apresiasi kepada peserta didik yang aktif dan berani menjawab.

E. Ayo Biasakan Sikap Mandiri!

Guru mengajak peserta didik menyebutkan satu kegiatan mandiri yang akan dilakukan setiap hari di sekolah.

Contohnya:

🌷 Saya akan menyiapkan buku sendiri.

🌷 Saya akan mengerjakan tugas sendiri.

🌷 Saya akan merapikan meja setelah belajar.

🌷 Saya akan menjaga alat tulis sendiri.

🌷 Saya akan membuang sampah pada tempatnya.

🌷 Saya tidak akan menyontek pekerjaan teman.

Peserta didik menyampaikan janji sederhana untuk menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

💗 LATIHAN MANDIRI

Ayo, kerjakan soal berikut dengan benar!

A. Berilah tanda centang (✓) pada perilaku yang menunjukkan sikap mandiri!

  1. Menyiapkan buku dan alat tulis sendiri.

  2. Meminta teman mengerjakan tugas.

  3. Merapikan meja setelah belajar.

  4. Menyontek pekerjaan teman.

  5. Memasukkan buku ke dalam tas sendiri.

B. Jawablah pertanyaan berikut!

  1. Apa yang dimaksud dengan sikap mandiri?

  2. Sebutkan dua contoh sikap mandiri di sekolah!

💗 PENUTUP

Alhamdulillah, anak-anak hebat! Hari ini kita telah belajar tentang menerapkan sikap mandiri di sekolah. 💗

Kita telah belajar mengenal pengertian sikap mandiri, contoh perilaku mandiri dan tidak mandiri, serta manfaat membiasakan sikap mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Ingat ya, sholeh dan sholehah!

🌷 Biasakan menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri.

🌷 Kerjakan tugas dengan kemampuan sendiri.

🌷 Jangan menyontek pekerjaan teman.

🌷 Rapikan meja dan alat tulis setelah belajar.

🌷 Jangan mudah menyerah ketika mengalami kesulitan.

🌷 Berani mencoba dan terus berusaha.

🌷 Bertanggung jawablah terhadap tugas sendiri.

🌷 Jangan selalu bergantung kepada orang lain.

Semoga kita menjadi anak yang saleh dan salehah, mandiri, jujur, disiplin, percaya diri, serta bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Alhamdulillahirabbil'alamin.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Rabu, 04 November 2026 Matematika

  KELAS 1C SD AL AZHAR 2 BANDAR  LAMPUNG 📌 IDENTITAS Nama Guru: Hesti Windari, S.Pd. dan Silva Ayuningsih, S.Pd. Hari/Tanggal: Rabu, 04 Nov...